Metta sayang,
Sementara
aku merenungkan waktu tiga belas tahun bersama-sama, aku menyadari betapa kami
harus bersyukur karena Allah memberkahi kami dengan seorang anak Phlegmatis
yang Damai. Kau memberikan keseimbangan yang peting dalam keluarga. Ketika kau
masih bayi, kau biasa bermain dengan mainanmu. Kami baru saja memulai usaha
sendiri di rumah, dan kau pas sekali dalam pembuatan tata buku.
Saudara
laki-lakimu, yang dua tahun lebih muda, merencanakan kenakalan dan kesenangan.
Kalimatmu yang terkenal, yang masih kami gunakan untuk menggodamu sampai
sekarang adalah “Aku juga.”
Pada hari
raya beberapa tahun yg lalu, kau berusaha keras untuk mengucapkan sepatah kata
bijaksana, tetapi seluruh keluarga sedang bicara dengan ribut dan keras. Dengan selera humormu yang tenang dan tidak
menyinggung, kau dengan kalem mengatakan, “Oh, aku akan bicara ke dalam tape
recorder saja, dan kalian bisa mendengarkannya kemudian.” Itu membuat kami
menunjukkan perhatian, dan kami tertawa.
Aku begitu
gembira, sebagai ibu, karena aku telah memahami watak-watak. Ketika guru member
komentar, “Metta selalu terlambat tetapi dia selalu setia,” aku bisa melihat
ini dengan rasa humor.
Aku masih
ingat ketika seorang teman membuka rahasia kepadamu bahwa dia ingin melarikan
diri dari rumah, kau membujuknya untuk menenangkan perasaan dan berusaha
melihat pandangan orang tuanya.
Kau dengan
gembira menerima dirimu seperti apa adanya, dan memahami perangaimu sendiri
dengan begitu baik sehingga kau memberi komentar kepadaku, “Itulah enaknya punya
teman-teman Phlegmatis yang Damai, mereka hampir-hampir tidak pernah bergerak,
jika kita selalu punya nomor teleponnya.”
Metta, aku
merasa sangat menikmati waktu kita selama tujuh belas tahun bersama-sama. Aku
hampir-hampir tidak bisa menunggu untuk melihat bagaimana kau membiarkan masa
depanmu terjadi. Tetapi aku tahu, bahwa apa pun yang kau putuskan, kau akan
memberinya komitmen dan merasa puas.
Penuh kasih sayang
Penuh kasih sayang
Ibu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar