Tampilkan postingan dengan label kutipan novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan novel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juli 2013

surat terakhir untuk Alfaro

a little part of my novel "Surat Terakhir untuk Alfaro"

siang hari ketika Alfaro sedang menikmati tidur siangnya, bel pintu rumahnya berbunyi. seseorang diluar sana meneriakkan kata "pos, Pak, Bu". alfaro segera berlari menuju halaman depan rumahnya untuk mengambil kiriman pos yang baru saja sampai di kotak surat rumahnya. tertera namanya disana "Alfaro Rizky Nugraha". buat gue? dari siapa nih? kok gak ada nama pengirimnya? batin Alfa. lalu sepucuk surat tersebut dibawanya memasuki ruangan favoritenya yaitu kamar tidur Alfa.

Disana, Alfa kembali bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. berkutit dengan pikiran-pikirannya, dari siapa surat ini? tumben-tumbenan ia mendapat surat. segera dibuka amplop surat berwarna putih tersebut, hanya goresan tinta hitam yang menodai putihnya amplop tersebut merangkai namanya disana. wah kertasnya berwarna hijau, warna kesukaannya, dan Ainy sahabatnya. warna itu menjadi salah satu kesamaan yang dimiliki Alfa bersama Ainy sahabat kecilnya. otak Alfa memutar kembali memori-memori yang sudah tersimpan rapi tentang kehidupannya bersama sahabatnya itu. Alfa sangat merindukan setiap momment bersama Ainy. Alfa berharap semoga saja surat ini benar dari Ainy. lalu Alfa membuka lipatan kertas hijau tesebut dan membacanya.

Dear my bestfriend Alfa,

Apa kabar? semoga kamu baik-baik saja ya. Sudah berapa lama ya kita tidak saling menyapa seperti ini, Fa?
aku sengaja mengirimkan surat ini untukmu, Fa. agar kamu selalu menyimpannya dan setiap kali kamu ingat aku, kamu bisa baca ulang surat ini. lagipula biaya telpon dan sms dari sini kesana sangat mahal. seminggu pertama disini sudah membuat dompetku tipis, Fa. facebookku jg sudah aku nonaktifkan. sementara emailku, aku lupa passwordnya apa hehe kau tau kan sepelupa apa aku ini?

jelas gue inget Ai lo sepelupa apa. semua tentang lo masih rapi gue simpen di otak gue. bahkan disatu sudut hati gue tersimpan nama indah lo yang selalu nemenin hari-hari gue.


oh iya Fa, bagaimana hubungan kamu dengan Dessy? apa kalian masih suka bertengkar? ingat Fa, cewek itu tidak boleh menerima kata-kata yang  kasar. dan sifat temprament kamu dihilangkan ya Fa. kasihan Dessy kalau harus kamu bentak-bentak tidak jelas saat kalian sedang ada masalah.

sial, lo masih inget gue sedetail itu, Ai? bahkan hubungan gue sama Dessy pun masih lo inget? tenang Ai, gue akan jaga Dessy dan memperlakukan dia sebaik mungkin kok. seulas senyum menghiasi pipi merah delima Alfa.

Alfa, aku minta maaf atas kepergianku yang mendadak dan tanpa pamit langsung kepadamu. aku tidak ingin kamu melihat raut wajah sedihku saat itu. percaya lah Fa, aku sangat menginginkan kamu mengantarkan ku saat itu, tapi aku juga tidak ingin melihat wajahmu yang sangat membuat dadaku sesak seketika. rasanya lebih sakit dari rasa sakit yang ditimbulkan jantungku jika sedang down. aku harap kamu mengerti maksudku, Fa.

ya ampun, Ai, gue kangen sama lo. air mata alfa jatuh tak terbendung lagi. dilanjutkannya lagi Alfa membaca surat pertama dari sahabat yang sangat dia rindukan itu tanpa menghapus air mata yang turun menghiasi pipi merah delimanya.

Fa, sudah bertahun-tahun kita bersama, apa kamu tidak pernah merasakan apa yang selalu aku rasakan? maaf Fa, tapi aku harus mengatakannya saat ini juga. aku tidak mau terlalu jauh menggantungkan masa depanku dengan rasa sakit yang sering mendera seluruh otot ditubuhku.
Fa, seperti yang kamu tahu, semenjak kita menjadi dekat beberapa tahun lalu bahkan sampai saat aku pergi meninggalkan negara kelahiranku dan parahnya sampai saat ini, saat aku mulai berniat untuk menulis surat ini untukmu, dan saat jemari tanganku menggoreskan tinta hitam di atas kertas hijau ini merangkai kata demi kata menjadi sebuah kalimat yang datang langsung dari hati dan otakku, aku masih merasakan perasaan yang sebenarnya tidak boleh aku rasakan. aku sungguh sangat merasa bersalah terhadapmu atas perasaan ini. tapi aku tidak mampu menghilangkannya, seperti saat aku tak mampu menolak datangnya perasaan ini. perasaan yang sangat membuatku seperti orang lain dimata ku sendiri. perasaan yang selalu membuat aku bahkan tak bisa mengerti diriku sendiri. tetapi aku juga bisa merasa bahagia seketika saat merasakannya, namun tidak berlangsung lama. seperti mimpi yang setiap malam menghiasi tidur semua insan. saat kau terbangun yang ada hanyalah kenyataan yang harus kau terima dan semua kebahagiaan tadi hanya sebuah intermezzo untukmu.
Aku mencintaimu Fa. dengan seluruh hembusan nafasku, dengan seluruh detak jantung yang mungkin sudah tak mampu lagi berdetak, tapi jangan khawatir Fa, aku akan tetap menyimpan rasa ini walaupun jantungku tak berdetak lagi.

Ai... air mata Alfa mengalir dengan derasnya. entah itu air mata bahagia atau air mata kesedihan karena Ainy sahabatnya ternyata memiliki perasaan cinta yang begitu dalam kepadanya.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Emh, itu sedikit part dari novel yang pernah aku tulis, sampai sekarang belum bisa aku lanjutkan. karena aku tidak tau mau melanjutkannya bagaimana, akhirnya dari novel itu pun tidak pernah aku tau mau aku tulis apa -,-
bahkan sepertinya novel ini tidak akan pernah aku lanjutkan lagi ^^
yasudah, nulis novel baru lagi aja deh hihihi

Kamis, 04 Oktober 2012

beberapa kutipan novel

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan."
— Tere Liye – novel "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah"


“Hebat sekali benda bernama perasaan itu,
Meski secuil, walau setitik hitam di tengah lapangan putih luas, dia bisa membuat seluruh tubuh jadi sakit, kehilangan selera makan, kehilangan semangat,
Dia bahkan bisa membuat harimu berubah cerah dalam sekejap padahal dunia sedang mendung, dan di kejap berikutnya mengubah harimu jadi buram padahal dunia sedang terang benderang”
--Tere Liye, novel "Kau, Aku, & Sepucuk Angpau Merah"



“Anak laki-laki yang baik tidak pernah meneriaki wanita apalagi membuatnya sedih dan tersakiti.”
~ Ayahku (bukan) Pembohong,Tere Liye.



Mereka yang dibutakan oleh ukuran duniawi (cantik, tampan, kaya, punya pekerjaan bagus, juara kelas, pintar main basket, jago nge-band, dsbgnya) tidak akan, sungguh tidak akan pernah mengerti hakikat cinta sejati.
~Tere Liye, buku Berjuta Rasanya



“Nak,apakah ada yang berpikir kalau hidup ini bukan sekedar pilihan?Karena jika hidup hanya sebatas pilihan,bagaimana kau melanjutkan hidupmu jika ternyata kau adalah pilihan kedua atau seterusnya bagi orang pilihan pertamamu?”
--Tere Liye, buku "Berjuta Rasanya"



"Jika kita memahami cinta adalah perasaan irrasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kita dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kita tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut.
Tidak lebih, tidak kurang."
*Tere Liye, novel "Sepotong Hati Yang Baru"



Memaafkan (itu harus) tapi tdk melupakan (agar jd pelajaran dan tdk terulang).
--tere liye, novel sunset bersama rosie

tentang takdir

* Tentang takdir

Bayangkan sebutir gandum tergeletak sendirian di lantai, di gudang penyimpanan. Sebutir gandum itu jatuh saat karung-karung ditumpuk. Lantas terkena sepakan kuli-kuli angkut yang beranjak pulang sore hari, terlempar kesana kemari, hingga akhirnya terjepit tersembunyi di sela-sela tegel. Seseorang yang bertugas menyapu lantai gudang menjelang malam meletakkan ember kering persis di atasnya. Sempurna sudah melindungi butir itu dari apapun. Atap gudang penyimpanan itu juga kokoh dan rapi, tidak pernah tampias meski setetes air sepuluh tahun terakhir.

Malam itu hujan deras turun.

Tetapi kering atau basah nasib sebutir gandum itu sudah ditentukan. Tidak peduli seberapa baik atap gudang menahan hujan. Tidak peduli seberapa kokoh ember plastik melindunginya. Tidak peduli seberapa dalam rekahan tegel menutupinya. Kalau malam itu ditentukan basah, maka basahlah ia, kalau ditentukan kering, maka keringlah ia. Begitu pula kehidupan. Robek-tidaknya sehelai daun di hutan paling tersembunyi sekalipun semua sudah ditentukan. Menguap atau menetesnya sebulir embun yang menggelayut di bunga anggrek di dahan paling tinggi, hutan paling jauh…. semua sudah ditentukan.

My dear, kehidupan ini tidak sia-sia. Besar kecil, semua berarti. Semua sudah ada yang menentukan. Kalau urusan sebutir gandum saja sudah ditentukan, bagaimana mungkin urusan manusia yang lebih besar luput dari ketentuan…. Bagi binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati kehidupan adalah sebab-akibat. Mereka hanya menjalani hukun alam yang sudah ditentukan. Setandan pisang masak-menguning setelah sekian hari, setangkai bunga melati jatuh-layu setelah sekian hari, seekor buaya ditentukan jenis kelaminnya berdasarkan hangat-dinginnya suhu induk mengerami…. Tidak ada yang melanggar aturan main itu.

Bagi manusia, hidup ini juga sebab-akibat. Bedanya bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi dan begitu seterusnya, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu, maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar melingkar. Indah. Sangat indah. Sama sekali tidak rumit.

Itulah mengapa tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya. Dengan tidak tahu, maka mereka yang menyadari kalau tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan akan selalu berbuat baik. Setiap keputusan yang mereka ambil, setiap kenyataan yang harus mereka hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan mereka sadari sebagai bagian dari bola raksasa yang indah, yang akan menjadi sebab-akibat bagi orang lain. Dia akan selalu berharap perbuatannya berakibat baik bagi orang lain.

Kecil-besar nilai sebuah perbuatan, langitlah yang menentukan, kecil-besar pengaruhnya bagi orang, langit juga yang menetukan. Bukan berdasarkan ukuran manusia yang amat keterlaluan mencintai dunia ini.

* Tere Liye, novel "Rembulan Tenggelam Di Wajahmu"

kasih sayang & kebencian tak terhingga


Tidak usah terlalu bersedih kalau hari-hari ini, kita merasa hidup ini sesak, menyebalkan, sendirian, putus asa, frustasi, dan sejenisnya, dan sebagainya. Tidak usah terlalu dipikirkan, kalau semua terasa sulit, menjengkelkan dan seolah tdk ada solusinya.

Well, di postingan ini, saya tidak akan menghibur dengan menyenangkan hati atau sok membesarkan hati kita agar bersabar, karena toh, sy juga kadang jengkel jika orang selalu menasehati dari sisi itu. Saya akan menggunakan sisi lainnya, hanya ingin bilang: "terkadang hanya orang2 yg pernah nyaris mati karena haus-lah, yang bisa merasakan betapa nikmatnya segelas air bening. Boleh jadi hanya para pendosa besarlah yg bisa merasakan pertobatan yang sempurna. Mungkin pula hanya orang2 yg pernah putus asa, merasa hidupnya sia-sia, dan hingga berharap matilah yang bisa menghargai hidup ini sungguh2."

Pikirkan, renungkan. Kalimat yg menarik, bukan?

Nah, jadi tidak usah terlalu sedih. Jika hari ini merasa paling sendirian sedunia, itu berarti besok lusa kalian akan menghargai jika memiliki teman atau seseorang yang disayangi. Jika hari ini merasa paling susah sedunia, termiskin di dunia, itu berari besok lusa kalian akan lebih menghargai jika ada orang susah yang minta tolong.

Dunia ini penuh misteri, entahlah, sy tidak tahu akan seperti apa kita menyikapi begitu banyak titik 'ekstrem' kehidupan yg dirasakan. Beberapa tumbuh menjadi lebih baik, beberapa menjadi lebih jahat. Semoga kita, masuk dalam golongan yg tumbuh menjadi baik dari situasi buruk.

Dan sebagai penutup, saya beritahu rahasia kecil lainnya: hanya perasaan sayang yg sebenar2nyalah yang bisa menghasilkan kebencian tak terhingga.





repost by Tere Liye

seekor angsa di kolam indah..


di sini, di kolam yg selalu ada pelangi, 
semua terlihat indah apa-adanya..
semak membunga, belukar mewangi.. 
ikan berkejaran, kodok melompat,.. 
belibis terbang berombongan dua tiga.. 
teratai mengambang menghiasi tengah 
lantas embun menetes.. 
splas.. splasss.. 
membuat riak lembut... 

di sini, di kolam yg selalu ada pelangi 
tempat binatang2 berkumpul untuk minum dipagi hari.. 
bersulang di siang terik.. 
atau berpesta di malam di bawah rembulan bundar.. 
kijang dan harimau bisa bersisian menyeduh air lezat kolam.. 
buaya dan kelinci bisa bersenda gurau tidak masalah.. 
di kolam ini semua damai.. 

di sini, di kolam yg selalu ada pelangi 
sungguh masih ada indah di atas indah.. 
ya benar.. masih ada indah di atas indah.. 
dialah: seekor angsa yg selalu bernyanyi.. 
lihat, lihatlah, riang meluncur menyapa ikan2.. 
sumringah menyapa hewan2 yg kehausan.. 
bermain dengan teratai.. 
bergurau dengan rembulan.. 
semua tahu, dialah mahkota kolam ini.. 

hingga suatu saat...
sungguh tega, seorang pangeran melintas di kolam itu.. 
dan keajaiban cinta merubah semuanya.. 
angsa itu harus pergi.. dia berubah menjadi puteri..
dia punya mimpi.. 
melihat dunia yg lebih luas di luar sana..
menyaksikan hal-hal baru nan mengejutkan.. 
berbuat lbh banyak agar lbh banyak lg yg merasa riang.. 
bersama pangeran hendak menghabiskan sisa kehidupan 

di sini, di kolam yg dulu selalu ada pelangi.. 
duhai... maka.. 
apakah boleh rembulan bersedih menatap bayangannya kosong tanpa sang angsa? 
apakah boleh ikan2 malas bergerombol, tak seru berkejaran lagi? 
apakah biar teratai merajuk memutuskan berhenti berbunga? 
dan hewan2 mulai bertengkar? dan belibis malah bertingkah? 
dan... apakah tega sang pelangi memutuskan menggulung warna-warnanya.. 
dan... 

entahlah... angsa itu telah pergi

*repost dr multiply, 2009